Kenapa Owner UKM Sering Tidak Punya Waktu Mengurus Media Sosial?

KABARUKM.ID, BISNIS — Media sosial kini menjadi salah satu kanal penting bagi pelaku usaha kecil dan menengah untuk memperkenalkan produk, membangun hubungan dengan pelanggan, hingga mendatangkan calon pembeli.

Masalahnya, menjalankan media sosial bisnis tidak berhenti pada aktivitas mengunggah foto atau video.

Ada ide konten yang harus dicari, materi yang perlu dibuat, jadwal posting yang perlu disusun, komentar dan pesan pelanggan yang harus dijawab, hingga evaluasi terhadap performa konten.

Bagi pemilik UKM yang masih terlibat langsung dalam operasional bisnis, semua pekerjaan tersebut bisa menjadi persoalan tersendiri.

Pada awalnya, mengurus Instagram atau media sosial bisnis mungkin terasa mudah. Namun ketika pesanan bertambah, pelanggan semakin banyak, stok harus diperiksa, pemasok harus dihubungi, karyawan perlu dikelola, dan keuangan harus diperhatikan, media sosial sering kali menjadi pekerjaan yang dikerjakan belakangan.

Akibatnya, akun bisnis tetap ada, tetapi pengelolaannya tidak konsisten.

Mengapa Owner UKM Sulit Konsisten Mengelola Media Sosial?

Persoalannya bukan selalu karena pemilik bisnis tidak menganggap media sosial penting.

Justru banyak owner memahami bahwa bisnis membutuhkan kehadiran digital. Hanya saja, waktu dan tenaga pemilik bisnis memiliki batas.

Ada beberapa alasan mengapa pengelolaan media sosial akhirnya sering terbengkalai.

1. Owner harus mengurus terlalu banyak bagian bisnis

Dalam bisnis skala kecil, pemilik usaha sering merangkap banyak pekerjaan sekaligus.

Hari ini harus mengecek stok. Besok harus mengurus supplier. Di waktu lain harus melayani pelanggan, mengawasi operasional, menghitung pemasukan, atau memikirkan strategi penjualan.

Media sosial akhirnya menjadi pekerjaan tambahan.

Ketika sedang senggang, owner mungkin sempat membuat konten. Tetapi ketika operasional sedang sibuk, aktivitas tersebut kembali tertunda.

Dari sinilah muncul pola yang cukup umum:

rajin posting → sibuk → berhenti posting → ingat kembali → posting lagi.

Masalahnya, pola tersebut membuat komunikasi bisnis dengan audiens menjadi tidak konsisten.


2. Membuat konten ternyata membutuhkan waktu lebih banyak dari yang diperkirakan

Salah satu kesalahan persepsi yang cukup umum adalah menganggap pekerjaan media sosial hanya sebatas:

“Tinggal foto produk, lalu upload.”

Dalam praktiknya, satu konten dapat membutuhkan beberapa tahapan.

Mulai dari menentukan topik, membuat konsep, mengambil atau menyiapkan materi visual, menulis caption, mengedit, menentukan waktu publikasi, sampai memantau respons audiens.

Jika ingin mengembangkan media sosial secara serius, pemilik bisnis juga perlu memikirkan siapa target audiensnya, apa kebutuhan mereka, jenis konten apa yang relevan, dan bagaimana konten tersebut mendukung tujuan bisnis.

Artinya, semakin serius sebuah akun bisnis dikelola, semakin besar pula waktu yang dibutuhkan.


3. Owner belum tentu memiliki keahlian social media marketing

Menggunakan Instagram memang relatif mudah.

Namun menggunakan Instagram sebagai instrumen pemasaran bisnis adalah persoalan yang berbeda.

Pemilik UKM mungkin bisa membuat postingan, tetapi belum tentu mengetahui:

  • konten seperti apa yang menarik calon pelanggan;
  • bagaimana menyusun content plan;
  • bagaimana membangun identitas bisnis di media sosial;
  • bagaimana membaca performa konten;
  • bagaimana meningkatkan engagement;
  • bagaimana mengubah perhatian audiens menjadi leads;
  • atau bagaimana menggunakan iklan dan traffic secara tepat.

Ketika kemampuan tersebut belum dimiliki, owner biasanya harus belajar sendiri.

Di sinilah waktu kembali menjadi persoalan.

Owner bukan hanya mengurus bisnis dan membuat konten, tetapi juga harus belajar bagaimana menjadi social media marketer.


Apa Dampaknya Jika Media Sosial Terus Dikerjakan di Waktu Sisa?

Mengelola media sosial pada waktu luang sebenarnya bukan sesuatu yang salah.

Untuk bisnis yang masih sangat kecil, cara tersebut bahkan bisa menjadi langkah awal yang masuk akal.

Namun, persoalan muncul ketika media sosial sudah menjadi bagian penting dari pemasaran tetapi pengelolaannya masih dianggap sebagai pekerjaan sampingan.

Beberapa dampaknya antara lain:

Konten menjadi tidak konsisten

Akun bisnis bisa aktif selama beberapa minggu, lalu tidak ada posting selama berminggu-minggu berikutnya.

Bagi calon pelanggan, akun yang jarang diperbarui dapat membuat bisnis terlihat kurang aktif.

Konten dibuat tanpa perencanaan

Karena dibuat secara spontan, konten akhirnya hanya mengikuti apa yang sedang terpikirkan hari itu.

Akibatnya, akun bisnis memiliki banyak posting tetapi belum tentu memiliki arah komunikasi yang jelas.

Interaksi dengan calon pelanggan terlambat

Media sosial bukan hanya tempat publikasi konten.

Komentar, direct message, pertanyaan mengenai produk, hingga respons calon pelanggan juga perlu diperhatikan.

Jika owner terlalu sibuk, respons tersebut berpotensi tertunda.

Owner kehilangan waktu untuk pekerjaan yang lebih penting

Ini mungkin persoalan terbesar.

Waktu yang digunakan untuk mencari ide konten, membuat desain, mengedit video, menulis caption, melakukan posting, dan memantau akun sebenarnya adalah waktu bisnis.

Pertanyaannya bukan sekadar:

“Berapa biaya mengelola media sosial?”

Tetapi juga:

“Berapa nilai waktu owner yang habis untuk mengerjakan semuanya sendiri?”


Apakah Owner UKM Harus Mengurus Media Sosial Sendiri?

Tidak selalu.

Pada fase awal bisnis, owner memang dapat mengelola media sosial sendiri sambil memahami karakter pelanggan dan membangun komunikasi dengan pasar.

Namun, ketika bisnis mulai berkembang, ada titik ketika pekerjaan tersebut perlu dievaluasi kembali.

Terutama jika owner mulai mengalami kondisi seperti:

  • tidak punya waktu membuat konten;
  • sering melewatkan jadwal posting;
  • tidak tahu konten apa yang harus dibuat;
  • kesulitan menjaga konsistensi akun;
  • tidak sempat membalas interaksi pelanggan;
  • tidak memahami data performa media sosial;
  • atau merasa media sosial sudah menghabiskan terlalu banyak waktu.

Dalam kondisi tersebut, masalahnya mungkin bukan lagi “bagaimana cara membuat postingan?”

Melainkan:

“Siapa yang seharusnya bertanggung jawab mengelola media sosial bisnis?”


Menggunakan Tim untuk Mengelola Media Sosial Bisa Menjadi Pilihan

Salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan UKM adalah menggunakan social media management.

Konsepnya cukup sederhana: pekerjaan pengelolaan media sosial tidak lagi sepenuhnya berada di tangan owner, tetapi ditangani oleh tim yang memang memiliki fungsi tersebut.

Tentu cakupannya bisa berbeda-beda.

Ada layanan yang hanya membantu membuat konten. Ada yang menangani posting dan kalender konten. Ada pula layanan full handle yang mencakup pengelolaan konten, interaksi, strategi, hingga evaluasi performa.

Bagi owner, manfaatnya bukan hanya soal mendapatkan konten.

Ada waktu yang kembali.

Owner dapat mengalokasikan lebih banyak perhatian untuk menjalankan operasional, melayani pelanggan, mengembangkan produk, mengelola tim, atau mencari peluang bisnis baru.

Dengan kata lain, biaya social media management sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai biaya membuat konten, tetapi juga sebagai pertimbangan mengenai efisiensi waktu dan tenaga dalam menjalankan bisnis.


Kapan UKM Mulai Membutuhkan Social Media Management?

Tidak ada ukuran omzet tertentu yang otomatis membuat sebuah UKM harus menggunakan social media management.

Kebutuhannya lebih tepat dilihat dari kondisi bisnis.

Jika media sosial sudah menjadi bagian penting dari pemasaran, tetapi owner tidak lagi memiliki cukup waktu atau kemampuan untuk mengelolanya secara konsisten, menggunakan bantuan tim bisa mulai dipertimbangkan.

Terlebih jika kebutuhan bisnis sudah melampaui sekadar membuat postingan.

Misalnya, bisnis membutuhkan:

perencanaan konten → produksi konten → posting → pengelolaan akun → interaksi audiens → strategi → evaluasi → pengembangan traffic dan leads.

Pada tahap tersebut, pengelolaan media sosial sudah menjadi sebuah pekerjaan tersendiri.


Full Handle Media Sosial: Owner Fokus Bisnis, Tim Mengurus Sosmed

Model full-handle menjadi salah satu pendekatan yang bisa dipertimbangkan oleh UKM yang tidak ingin seluruh aktivitas media sosial tetap menjadi pekerjaan owner.

Salah satu layanan yang menawarkan model tersebut adalah UKMGO SOSMED.

Melalui layanan social media management, pekerjaan media sosial dapat ditangani oleh tim sehingga owner tidak perlu mengurus seluruh proses seorang diri.

Cakupannya menyesuaikan paket yang dipilih, mulai dari pembuatan dan pengelolaan konten, posting, pengelolaan Instagram, interaksi, strategi, laporan, hingga dukungan traffic dan lead customer pada paket tertentu.

Pendekatan seperti ini pada akhirnya bukan hanya soal mendapatkan lebih banyak postingan.

Bagi owner UKM, nilai yang paling terasa bisa jadi justru waktu yang kembali untuk menjalankan bisnis.

Informasi mengenai layanan dan cakupan paket dapat dilihat melalui UKMGO SOSMED.

Untuk kebutuhan konsultasi, calon pengguna juga dapat menghubungi WhatsApp 0812-9000-5230.


Media Sosial Penting, Tetapi Tidak Harus Selalu Dikerjakan Owner

Media sosial memang semakin sulit dipisahkan dari aktivitas pemasaran UKM.

Namun, memiliki akun bisnis dan mengelolanya secara konsisten adalah dua hal yang berbeda.

Owner tidak harus selalu menjadi orang yang membuat setiap konten, melakukan posting, membalas setiap interaksi, dan memikirkan strategi media sosial seorang diri.

Ketika aktivitas tersebut mulai mengambil terlalu banyak waktu dari pekerjaan utama, UKM dapat mengevaluasi kembali pembagian tugasnya.

Sebab pada akhirnya, tujuan media sosial adalah membantu bisnis berkembang, bukan membuat pemilik bisnis semakin sibuk.

Dan bagi sebagian UKM, menyerahkan pengelolaan media sosial kepada tim profesional bukan semata-mata soal mengeluarkan biaya tambahan, melainkan cara untuk membeli kembali waktu yang selama ini habis untuk mengurus pekerjaan di luar fokus utama bisnis.

Click to rate this post!
[Total: 0 Average: 0]

Leave a Reply

Discover more from KabarUKM.ID

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading